Perahu Pemancing Terbalik di Ternate, Anak 6 Tahun Masih Dicari

Berita3 Views

Perahu Pemancing Terbalik di Ternate, Anak 6 Tahun Masih Dicari Kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Kota Ternate, Maluku Utara. Sebuah perahu kecil yang membawa empat orang pemancing terbalik di sekitar Pantai Tulang Ikan, Kelurahan Dufa Dufa, Kecamatan Ternate Utara, Minggu, 13 September 2026. Satu orang dewasa meninggal dunia, dua anak berhasil diselamatkan, sedangkan seorang anak berusia enam tahun masih dalam pencarian.

Korban yang belum ditemukan diketahui bernama Muhammad Affan. Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian dengan menyisir permukaan laut dan menurunkan penyelam ke sekitar titik perahu terbalik. Kondisi arus yang cukup kuat membuat proses pencarian tidak mudah dilakukan.

Peristiwa tersebut bermula ketika satu orang dewasa bersama tiga anak pergi memancing menggunakan perahu di sekitar Pantai Tulang Ikan. Polisi mencatat mereka mulai terlihat menaiki perahu sekitar pukul 09.50 WIT. Hanya sekitar sepuluh menit kemudian, perahu terbalik dan seluruh penumpang tercebur ke laut.

Empat Orang Berangkat Memancing dari Pantai Tulang Ikan

Pantai Tulang Ikan berada di kawasan Dufa Dufa yang berhadapan langsung dengan laut. Aktivitas warga di sekitar kawasan tersebut cukup dekat dengan perairan, termasuk memancing menggunakan perahu kecil.

Berdasarkan keterangan Polres Ternate, seorang saksi melihat empat korban berada di atas perahu sebelum kejadian. Mereka terdiri atas Mudaffar M. Kadir yang berusia 44 tahun serta tiga anak, yakni Ibrahim berusia delapan tahun, Zaid Abdullah berusia sepuluh tahun, dan Muhammad Affan berusia enam tahun.

Sekitar pukul 10.00 WIT, saksi melihat perahu tiba tiba kehilangan keseimbangan dan terbalik. Keempat orang yang berada di atasnya langsung jatuh ke laut.

Kondisi kemudian berubah cepat karena arus membawa para korban menjauh. Tiga anak sempat terlihat saling berpelukan ketika terapung dan terbawa air. Keadaan inilah yang kemudian memicu warga di sekitar pantai berusaha memberikan pertolongan secepat mungkin.

Tidak ada keterangan resmi bahwa korban sedang melakukan perjalanan jauh. Aktivitas mereka disebut hanya memancing di sekitar perairan Dufa Dufa. Meski demikian, kecelakaan terjadi dalam waktu sangat singkat setelah perahu mulai digunakan.

Warga Bergerak setelah Mendengar Teriakan Minta Tolong

Saksi yang melihat perahu terbalik segera berteriak meminta bantuan. Sejumlah warga kemudian bergerak menuju lokasi, termasuk menggunakan sampan kecil untuk mencapai korban yang sudah terbawa arus.

Saat proses penyelamatan dilakukan, dua anak berhasil diraih dan dibawa menuju daratan. Korban dewasa juga dapat ditemukan, tetapi kondisinya sudah tidak sadarkan diri.

Situasi paling sulit terjadi ketika warga berusaha menyelamatkan ketiga anak. Muhammad Affan disebut sempat berada dalam jangkauan saat proses pertolongan berlangsung. Namun, bocah tersebut terlepas dari genggaman dan kemudian terseret arus.

Informasi serupa disampaikan dalam laporan pencarian SAR. Muhammad Affan hingga berakhirnya operasi hari pertama belum ditemukan meskipun penyisiran telah dilakukan di permukaan dan bawah air.

Kecepatan warga memberikan bantuan membuat dua anak dapat diselamatkan. Dalam kecelakaan di laut, beberapa menit pertama sering menjadi periode penting karena posisi korban dapat berubah cepat mengikuti angin dan arus.

Menurut penulis, tindakan warga yang langsung menggunakan sampan untuk mendekati korban menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir. Namun, pertolongan spontan juga harus mempertimbangkan keselamatan penolong agar tidak menambah jumlah korban.

Mudaffar M. Kadir Sempat Dibawa ke Rumah Sakit

Korban dewasa, Mudaffar M. Kadir, merupakan warga Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan. Ia ditemukan dan dievakuasi dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah ikut terbawa arus.

Sekitar pukul 10.30 WIT, Mudaffar bersama dua anak yang berhasil diselamatkan dibawa ke Rumah Sakit Islam Ternate. Tenaga medis kemudian melakukan penanganan terhadap para korban.

Sekitar pukul 10.45 WIT, pihak rumah sakit menyatakan Mudaffar meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa menuju rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga.

Belum ada penjelasan medis terperinci yang dipublikasikan mengenai penyebab kematian. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan penyebab spesifik selain menyebut korban meninggal setelah terlibat kecelakaan perahu dan sempat dievakuasi dalam keadaan tidak sadar.

Polisi juga masih mengumpulkan bahan keterangan mengenai kejadian tersebut. Langkah ini diperlukan untuk mengetahui urutan kejadian, kondisi perahu, keadaan perairan, serta faktor yang menyebabkan perahu kehilangan keseimbangan.

Ibrahim dan Zaid Berhasil Selamat

Dua anak yang berhasil diselamatkan adalah Ibrahim dan Zaid Abdullah. Keduanya segera memperoleh perawatan medis setelah dibawa dari lokasi kejadian.

Ibrahim berusia delapan tahun, sedangkan Zaid berusia sepuluh tahun. Polisi menyatakan keduanya masih menjalani perawatan setelah proses penyelamatan.

Keterangan yang tersedia belum memerinci luka atau gangguan kesehatan yang dialami kedua anak tersebut. Karena itu, kondisi medis mereka sebaiknya tidak diperkirakan lebih jauh tanpa keterangan rumah sakit atau keluarga.

Dalam kejadian tenggelam, korban yang berhasil keluar dari air tetap memerlukan pemeriksaan. Air yang masuk ke saluran pernapasan, kehilangan panas tubuh, kelelahan, serta kepanikan dapat membutuhkan pengawasan medis meskipun seseorang sudah sadar setelah dievakuasi.

Kedua anak juga menjadi saksi langsung atas kejadian tersebut. Namun, proses pengambilan keterangan terhadap anak perlu dilakukan secara hati hati dengan mempertimbangkan keadaan fisik dan psikologis mereka setelah mengalami kecelakaan.

Muhammad Affan Terlepas saat Hendak Dievakuasi

Muhammad Affan menjadi satu satunya korban yang belum ditemukan pada akhir pencarian hari pertama. Bocah berusia enam tahun itu disebut terlepas ketika warga mencoba menolong para korban yang terbawa arus.

Kepala Kantor SAR Ternate Iwan Ramdani mengatakan pencarian dilakukan dengan membagi wilayah operasi menjadi tiga sektor. Area di sekitar lokasi kejadian mendapat perhatian khusus karena menjadi titik terakhir korban diketahui berada.

Penyelam dari Basarnas, TNI AL, dan Polairud dikerahkan untuk memeriksa bawah permukaan. Kedalaman laut di sekitar lokasi disebut sekitar delapan sampai sepuluh meter.

Selain pencarian bawah air, tim melakukan penyisiran ke arah utara. Arah tersebut dipilih dengan mempertimbangkan pergerakan arus permukaan yang diperkirakan dapat membawa korban menjauh dari lokasi awal.

Hingga operasi hari pertama dihentikan sementara, Muhammad Affan belum ditemukan. Pencarian kemudian dijadwalkan dilanjutkan kembali pada Senin pagi, 14 September 2026.

Dua Belas Penyelam Diturunkan ke Laut

Operasi pencarian melibatkan sedikitnya 12 penyelam. Mereka berasal dari beberapa unsur yang bergabung dalam satu operasi SAR.

Iwan Ramdani menjelaskan bahwa sektor pertama memiliki luas sekitar satu mil laut persegi di sekitar lokasi kejadian. Area tersebut menjadi tempat utama penyelaman karena korban terakhir diketahui berada tidak jauh dari titik perahu terbalik.

Sektor berikutnya diarahkan ke utara sejauh sekitar tiga mil laut persegi dan dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit. Personel melakukan penyisiran permukaan dengan perahu sambil mengamati kemungkinan keberadaan korban.

Laporan lain menyebut cakupan pencarian pada hari pertama berkembang hingga sekitar 4,5 mil laut. Penyisiran berlangsung sejak menjelang siang sampai sekitar pukul 18.00 WIT sebelum operasi dihentikan sementara karena waktu dan keadaan lapangan.

Penggunaan penyelam dilakukan karena terdapat kemungkinan korban masih berada tidak jauh dari titik kecelakaan. Pada saat bersamaan, penyisiran permukaan diperlukan karena arus dapat membawa korban menjauh dalam waktu relatif singkat.

Kedalaman Laut Mencapai Sekitar 10 Meter

Kedalaman perairan pada area pencarian disebut berada pada kisaran delapan sampai sepuluh meter. Angka tersebut cukup memungkinkan dilakukan penyelaman, tetapi arus menjadi tantangan utama.

Penyelam harus bekerja dengan pengamanan dan koordinasi ketat. Arus yang kuat dapat mengubah posisi penyelam dan mempersempit jarak pandang, terutama apabila dasar laut memiliki sedimen yang mudah terangkat.

Pencarian bawah air juga membutuhkan pembagian waktu. Penyelam tidak dapat terus menerus berada di dalam air karena kemampuan fisik, persediaan udara, kondisi laut, dan keselamatan harus diperhitungkan.

Karena itu, operasi dilakukan bergantian antara penyelaman, penyisiran menggunakan perahu, dan pengamatan dari permukaan.

Arus Kuat Menjadi Kendala Pencarian

Polres Ternate menyatakan arus laut di sekitar lokasi kejadian cukup kuat. Keadaan tersebut dinilai ikut membuat para korban terbawa menjauh dan menyulitkan proses pertolongan.

Basarnas juga mencatat adanya angin yang cukup kencang serta arus permukaan kuat selama operasi pencarian. Kondisi ini membuat pencarian tidak dapat hanya berpusat di satu titik.

Pergerakan korban di laut dipengaruhi beberapa unsur, termasuk arah arus, angin, gelombang, berat pakaian, serta benda yang mungkin digunakan untuk bertahan.

Tim SAR kemudian memakai informasi pergerakan arus untuk menentukan sektor pencarian berikutnya. Untuk hari kedua, penyisiran direncanakan lebih luas ke arah utara berdasarkan pembaruan mengenai angin dan arus permukaan.

Pola pencarian seperti ini diperlukan karena posisi awal kecelakaan hanya menjadi titik acuan. Semakin lama seseorang berada di air, semakin besar kemungkinan posisinya bergeser.

Polres Ternate Datangi Lokasi dan Kumpulkan Keterangan

Personel Polsek Ternate Utara bersama Polres Ternate langsung mendatangi lokasi setelah menerima informasi kecelakaan.

Petugas melakukan penanganan awal, mengamankan area, dan mengumpulkan bahan keterangan dari saksi. Polisi juga berkoordinasi dengan unsur SAR setelah diketahui masih terdapat satu anak yang belum ditemukan.

Tim Polairud Polda Maluku Utara kemudian datang ke lokasi. Basarnas Ternate menyusul sekitar pukul 12.00 WIT bersama unsur TNI AL dan tim lainnya.

Kapolsek Ternate Utara AKP Rusli Hanafi sebelumnya juga membenarkan satu korban dewasa meninggal dan seorang anak masih hilang. Pencarian kemudian menjadi prioritas tim gabungan sepanjang Minggu.

Belum ada keterangan bahwa polisi menemukan unsur pidana dalam kecelakaan tersebut. Pemeriksaan pada tahap awal lebih diarahkan untuk mengetahui urutan kejadian dan membantu proses penanganan korban.

Penyebab Perahu Terbalik Masih Perlu Dipastikan

Sejumlah pemberitaan menyebut perahu terbalik ketika para korban sedang memancing. Ada laporan yang mengaitkan kejadian dengan gelombang, sedangkan keterangan resmi Polres Ternate lebih berhati hati dengan menyebut perahu tiba tiba terbalik.

Karena itu, penyebab akhir sebaiknya menunggu hasil pemeriksaan. Kondisi arus kuat telah dikonfirmasi, tetapi belum ada keterangan resmi mengenai ukuran gelombang saat perahu kehilangan keseimbangan.

Petugas dapat memeriksa ukuran serta kondisi perahu, posisi penumpang sebelum kecelakaan, muatan yang dibawa, kondisi mesin, hingga penggunaan alat keselamatan.

Keterangan saksi di darat dan dua korban yang selamat juga dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi beberapa detik sebelum perahu terbalik.

Perbedaan kecil dalam urutan peristiwa sangat penting. Perahu dapat terbalik karena gelombang, perubahan posisi penumpang, air masuk ke lambung, tabrakan dengan benda, atau gabungan beberapa keadaan.

Keselamatan Anak di Perahu Kecil Jadi Sorotan

Kecelakaan ini kembali memperlihatkan tingginya risiko membawa anak menggunakan perahu kecil di perairan terbuka.

Tubuh anak lebih ringan dan kemampuan berenangnya biasanya belum sebaik orang dewasa. Ketika perahu terbalik, mereka juga dapat mengalami kepanikan sehingga sulit mempertahankan posisi kepala di atas permukaan.

Penggunaan jaket keselamatan menjadi salah satu perlindungan penting. Alat tersebut membantu tubuh tetap mengapung sehingga peluang korban terlihat dan ditemukan menjadi lebih besar.

Jaket juga harus sesuai ukuran. Pelampung orang dewasa yang terlalu besar dapat terlepas dari tubuh anak ketika berada di air.

Polres Ternate secara khusus mengimbau masyarakat memperhatikan cuaca dan arus serta mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di laut, terlebih ketika membawa anak.

Menurut penulis, kecelakaan ini perlu menjadi pengingat bahwa perjalanan dekat dari pantai tetap membutuhkan standar keselamatan. Jarak yang terlihat pendek tidak membuat arus, gelombang, dan perubahan cuaca menjadi lebih ringan.

Perahu Kecil Sangat Dipengaruhi Perubahan Perairan

Perahu kecil mempunyai karakter berbeda dibandingkan kapal berukuran besar. Bobotnya lebih ringan sehingga perubahan gelombang dan distribusi penumpang lebih cepat memengaruhi keseimbangan.

Ketika beberapa orang bergerak ke satu sisi secara bersamaan, titik berat perahu dapat berubah. Risiko bertambah jika air mulai masuk atau gelombang mengenai bagian samping.

Anak juga dapat bergerak tiba tiba karena takut atau berusaha mencari pegangan. Karena itu, orang dewasa yang membawa anak harus memastikan posisi duduk aman sejak sebelum perahu berangkat.

Muatan seperti alat pancing, kotak penyimpanan, bahan bakar, dan barang lain sebaiknya ditempatkan secara merata dan tidak menghalangi jalan keluar.

Perjalanan juga perlu dibatalkan apabila kondisi perairan mulai berubah. Keinginan untuk tetap memancing tidak sebanding dengan risiko apabila angin dan arus mulai menguat.

Pencarian Hari Kedua Difokuskan ke Arah Utara

Tim SAR menutup sementara operasi pada Minggu sekitar pukul 18.00 WIT setelah Muhammad Affan belum ditemukan. Pencarian dijadwalkan dimulai kembali pada Senin pukul 06.00 WIT.

Rencana operasi hari kedua mencakup perluasan area menuju bagian utara. Penentuan wilayah tersebut mengikuti informasi mengenai pergerakan arus dan angin yang dapat membawa korban dari lokasi kecelakaan.

Selain personel profesional, masyarakat pesisir dan nelayan mempunyai peran besar dalam pencarian. Mereka dapat melihat wilayah yang sulit dijangkau kapal besar serta memberikan informasi apabila menemukan benda atau tanda yang berkaitan dengan korban.

Koordinasi diperlukan agar perahu pencari tidak bergerak tanpa pembagian wilayah. Pembagian sektor membuat area dapat diperiksa lebih teratur dan mengurangi kemungkinan satu lokasi diperiksa berulang sementara wilayah lain terlewat.

Operasi juga harus memperhatikan keselamatan personel karena arus yang menyulitkan korban pada saat kecelakaan tetap menjadi ancaman bagi tim pencari.

Pantai Dufa Dufa Menjadi Pusat Operasi

Pantai Tulang Ikan dan kawasan Dufa Dufa menjadi titik utama berkumpulnya petugas selama operasi. Dari lokasi tersebut, tim mengatur pergerakan perahu dan penyelam.

Keluarga korban tentu menunggu perkembangan pencarian Muhammad Affan. Namun, hingga berita terkini pada akhir operasi hari pertama, belum terdapat informasi resmi bahwa bocah tersebut telah ditemukan.

Petugas meminta informasi mengenai perkembangan pencarian merujuk pada keterangan tim SAR agar tidak muncul kabar keliru yang dapat menambah beban keluarga.

Sementara itu, Ibrahim dan Zaid tetap mendapatkan penanganan setelah berhasil diselamatkan. Mudaffar telah diserahkan kepada keluarga setelah dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Islam Ternate.

Tim gabungan kini memusatkan tenaga pada satu sasaran, menemukan Muhammad Affan dengan memperluas penyisiran permukaan dan melanjutkan pemeriksaan area laut yang diperkirakan menjadi jalur pergerakan korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *